Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BERITA » Kondisi psikologis Jessica Sebelum dan Setelah Mirna Meninggal

Kondisi psikologis Jessica Sebelum dan Setelah Mirna Meninggal

(395 Views) Agustus 15, 2016 2:52 pm | Published by | No comment

JAKARTA-Sidang kematian Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ahli psikologis klinis yang didatangkan sebagai saksi mengatakan, Antonia Ratih Andjayani.Hasil pemeriksaan psikologis yang dilakukan terhadap Jessica, tak terlihat ekspresi kesedihan.IMG_20160815_151023

“Tampilan dari perilaku yang dimunculkan tetap bisa dilihat kesedihan kehilangan masalah-masalah trauma. Yang ini saya tidak lihat pasca Mirna meninggal,” kata Antonia di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (15/8).

Padahal, kata Antonia, sebelum kejadian, Jessica tampak antusias dengan pertemuan tersebut. Terbukti dengan segala persiapan yang dilakukan Jessica termasuk sampai memesan minum untuk Mirna.

“Biasanya pertemuan ada tampilan perilaku bahwa peduli dan inisiatif untuk mengurus teman-teman saya apa yang mau dipesan terlebih dahulu. Biasanya sesuai dengan apa yah diinginkan. Dalam kasus ini Jessica berinisiatif memesankan. Mirna mengiyakan atau tidak, di-whatsapp tidak menjawab. Mengapa memesan ice kopi? Mirna tidak komplain karena yang bersangkutan menghargai. Biasanya apalagi perilaku yang lazim akan memesankan ulang. Karena ketika kita janjian dengan orang-orang teman yang menghargai teman lainnya memberikan yang bagus,” terang Antonia.

Melihat itu, Antonia menyimpulkan Jessica dapat tampil dengan sangat tenang, kalem bahkan dingin jika dia berada dalam kondisi situasi sesuai prediksi. Situasi yang sudah dia antisipasi.

“Ekspresi yang ditampilkan berubah 80 persen yang tadinya kooperatif berubah dingin jadi ketus. Dia tadinya terbuka lalu berubah tertutup. Lontaran-lontaran sekecil apapun itu informasi. Jika situasi sudah sesuai dengan prediksi maka bisa tenang. Saya tidak bisa menyentuh ini emosi dangkal. Ini masuk ke sisi untuk orang-orang yang punya daya kondisi dirinya bahkan men-triger luapkan emosi masih bisa dikendalikan,” beber Antonia.

Lebih jauh, saat Jessica menyodongkan badan ke arah meja ketika 3 paper bag berada di atas meja, dirinya menilai Jessica berpotensi untuk menjadi tersangka.

“Kalau bicara seseorang apa setiap orang memiliki potensi menjadi pembunuh, bisa. Tapi seberapa besar potensinya? Dari sangat kecil sampai besar. Lalu pertanyaan selanjutnya, apa orang akan melakukannya? Kalau dikaitkan teorinya, menolong tanpa pamrih, lalu pertanyaannya selanjutnya mungkinkan tersangka memiliki keterampilan menolong orang? Dalam rekaman CCTV saya tidak melihat itu,” paparnya.

“Kesimpulannya berdasarkan keterangan, momen Jessica sangat berpotensi memanipulasi gelas yang diminum Mirna pada pukul 16:55 berdasarkan analisa,” kata Antonia mengakhiri. (mdk/lia/mc)

Categorised in:

No comment for Kondisi psikologis Jessica Sebelum dan Setelah Mirna Meninggal

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *