Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BERITA » Kepala Bappeda Rohul Jawab Stigma ‘Pemkab Rohul Tak Membangun’

Kepala Bappeda Rohul Jawab Stigma ‘Pemkab Rohul Tak Membangun’

(99 Views) Februari 28, 2020 3:54 pm | Published by | No comment

IMG_20200228_124125

ROKAN HULU-Problematika anggaran defisit dan isu ‘Pemkab Rohul tak membangun’,  akhir-akhir ini menjadi isu santer, sering menjadi perbincangan hangat, bahkan tak jarang, isu itu dijadikan komiditi titik lemah pemerintah.

Menjawab hal itu, ketika detikperistiwa.com mengkonfirmasi  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)  Rohul  Nifzar SP, saat penutupan kegiatan Forum Perangkat Daerah (FPD) Rohul Tahun 2020, di Aula Bappeda Rohul, di Komplek Pemda Desa Pematang Berangan, Jumat (28/2/2020).

Dengan tegas Nifzar SP menjelaskan kalau defisit itu,  tidak tidak melanggar hukum, lawan dari defisit adalah surplus,  maksudnya kekurangan dalam pendanaan, itu merupakan hal yang klasik.

Saat ditanya, ada pradigma munculnya defisit itu, karena tidak matangnya perencanaan,  Nifzar, SP membantah hal tersebut, defisit itu merupakan dinamisasi anggaran, konteksnya, perencanaan dan penerimaan, termasuk potensi sumber pendapatan, baik dana perimbangan atau sumber lain-lain pendapatan yang sah.

“Ketika anggarannya ada tentu ini semuanya harus dibelanjakan, cara belanjanya itu, ya menyusun perencanaan, tapi ketika di dalam perjalanan penerimaannya tidak sama dengan yang targetnya, maka yang terhambat itu adalah program kegiatan yang sudah direncanakan, bukan perencanaan pembangunan yang salah,” imbuhnya.

Saat dicoba menggali fenomena defisit ini, bahkan isunya sudah menjadi isu sosial dan politik, Nifzar SP, menanggapinya, defisit itu hal biasa dan normal saja,  dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Mestinya memang Pemerintah Daerah itu berbelanja sesuai dengan kemampuan keuangan, untuk menghindari defisit, tetapi perlu diketahui semua kalangan seluruhnya ini adalah sifatnya estimasi, tidak ada, yang ada dulu uangnya baru belanja, baik estimasi penerimaan Pendapatan asli daerah maupun estimasi penerimaan dana perimbangan atau estimasi penerimaan lain-lain pendapatan yang sah,” imbuhnya.

“Apa yang kita rencanakan itu tahun depan, uangnya kan belum ada, tapi dengan regulasi yang ada dengan estimasi  dari APBN maupun dari provinsi termasuk dari rencana kita, dari situlah kita melakukan pembangunan,” jelasnya.

“Hal yang paling esensial penyebab terjadinyan difisit itu, kemampuan penerimaan yang tidak sesuai dengan target,” tegasnya.

Berkaca dari APBD Rohul tahun 2018 disahkan sebesar‎ Rp 1. 334. 408. 235. 528, kemudian naik tahun 2019 dari Rp 1. 477. 725. 679. 838 di APBD murni 2019 menjadi Rp 1. 877. 144. 745. 469,9 pada APBD-Perubahan.

Namun, muncul semacam stigma ‘Pemkab Rohul tidak membangun’, meski perolehan anggaran menaik, namun hal ini diterangkan Kepala Bappeda Rohul, dengan moto ‘Membangun Desa dan Menata Kota’ sebenanya saat ini pembamgunan di Rohul itu bisa dikategorikan sudah merata.
“Sebab saat ini hampir semua penjuru wilayah Kabupaten Rohul, itu merasakan dan tersentuh dengan anggaran APBD Rohul, termasuk pembangunan infstruktur ke pedesaan,” imbuhnya.

Cuma lanjutnya, dirinya tidak menyalahkan pemerintahan sebelumnya. “Karena pemerintahan sebelumnya itu 10 tahun membangun  Ibukota, Kabupaten Rohul,” terangnya.

“Tentu di sana  ada plus-minusnya, jika dulu mencoba membangun identitas ibukota kabupaten,  sekarang lebih mengarah kepada pelayanan kebutuhan masyarakat, dulu masyarakat desa mengeluh dengan terbatasnya infrastruktur,” ungkapnya.

“Saat sekarang ini, infrastruktur ke pedesaan sudah mulai dibangun secara bertahap, kemudian dilakukan secara merata,” pungkas  Kepala Bappeda Rohul mengakhiri.

Categorised in: , ,

No comment for Kepala Bappeda Rohul Jawab Stigma ‘Pemkab Rohul Tak Membangun’

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *