Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » OPINI » “Berdakwah di Lembah Sorga”

“Berdakwah di Lembah Sorga”

(532 Views) Juli 7, 2016 10:46 pm | Published by | No comment

Catatan Kammis Rajuli: (Komunitas Penulis Pemula) Hari bergulir begitu cepat, tak kusangka kini aku duduk di semester tiga kulliahku, setiap deraiyan waktu kuingatkan perbuatan yang kulakukan, ternyata Aku sudah banyak belajar.
IMG_20160707_224836
Namun perlu difahami bahwa Aku adalah mahasiswa yang pas-pasan dalam otak. Bukan tak mampu bersaing dalam pelajaran tapi rasa malas sering kali merasukiku. Hari ini aku harus bisa menjadi seorang da’i yang paham agama.

Setelah berangkat dari medan Aku belum tau dimana akan di tempatkan menjadi da’i, oleh karena itu perasaan-perasaan bimbang dan takut menyulut dalam benakku. Aku akan menjadi pengajar. Aku akan jadi ustad. apa aku bisa ya. Pikiran-pikiran itulah yang selalu menggangguku. Bagaimana kalau aku di suruh imam atau ceramah, waduh bisa kapok aku jadi ustad tapi masih sikit ilmu agama.

Dalam bayang-bayang bimbang, akhirnya ku temukan satu hal yang bisa membuat hatiku tenang, yaitu satu mushap Al-qur’an pemberian sahabatku. Beliau pernah bilang Al-qur’an adalah segalanya.

Dengan santai ku buka mushap tersebut dan membaca beberapa surah, hingga tak terasa kami pun sampai di sebuah desa yang begitu indah, desa yang masih asri dengan alamnya.

Mobil kami berhenti di sebuah mesjid yang tidak terlalu besar, di samping mesjid tersebut tedapat sebuah sekolah untuk PAUD dan halaman yang lumayan luas membuat nyaman jika duduk di pelantaran mesjid itu sambil menikmati pemandangan di sekitar rumah-rumah penduduk.

Ketika turun dari mobi yang mengantarku, aku disambut oleh tokoh-tokoh masarakat setempat. mereka begitu menyenangkan dan ramah-ramah. Dalam pembicaraan dengan mereka, akhirnya di buatlah susunan kegiatan selama dua puluh hari di desa tersebut.

Dalam kegiatan tersebut, aku sangat deg-deg kan, sebab. Aku dituntut mengajar anak-anak, ceramah sebelum tarawih dan khutbah jum’at. dalam bayangan pikiranku aku belum pernah khutbah serta mengajar anak-anak. Bahkan anak-anak itu sangat menyebalkan bagiku. Tapi walaupun hatiku memberontak namun itu adalah tugasku.

Sore harinya di hari pertama aku di desa tersebut, tibalah saatnya memulai tugasku mengajar anak-anak di desa tersebut.

Oh ya desa itu namanya desa Bakal Julu, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, yang bertepatan di Dusun Mamontrep.

Ketika perkenalan dengan mereka, tak terlihat olehku anak-anak, Namontrep nakal-nakal, bahkan mereka sangat menyanangkan dan waktu aku mengajar mereka begitu konsentrasi dengan apa yang kusampaikan.

Mereka juga anak-anak yang baik dan ramah, tidak seperti anak pada umumnya di kota yang lebih tertarik bermain dari pada belajar.

Waktu terus bergulir, tanpa terasa aku sudah tiga hari di desa ini. saat itu aku di ajak anak-anak ke ranuan(sungai).

Ketika berjalan mengelilingi desa hingga tiba di salah satu kebun yang begitu indah. Dari kebun tersebut terlihat aliran ranuan yang jauh di bawah sana. Ditambah pemandangan perbukitan serta ladang-ladang yang membentang dan pegunungan yang menantang untuk di daki.

Itu suatu pemandangan yang sangat langka yang tak bisa di nikmati banyak orang, sebab aliran ranuan yang jauh di bawah sana seperti sendok garpu.

Subahanalloh luar biasa Allah menciptakan ini pikirku dalam hati. betapa tidak air yang mengalir dari hulu membagi jadi tiga jalur seperti layaknya sendok garpu. Tak ada batu besar yang menghalangi aliran ranuan tesebut tapi ini suatu hal yang sangat jarang terlihat.

Di tengah-tengah aliran air yang membagi tiga terdapat kebun-kebun yang menambah keindahan alam desa ini. hingga tasbih terucap dari bibirku menyaksikan ini. Bersambung

Categorised in:

No comment for “Berdakwah di Lembah Sorga”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *